Oleh: Susi Rio Panjaitan
Trauma adalah reaksi emosional dan psikologis yang mendalam terhadap pengalaman yang sangat menyakitkan, menakutkan, atau mengancam keselamatan diri, baik secara fisik maupun emosional. Trauma terjadi ketika seseorang mengalami peristiwa yang melampaui kemampuannya untuk mengatasinya. Contohnya: kekerasan fisik, kekerasan seksual, kecelakaan berat, bencana alam, kematian orang terdekat, atau pengalaman ditolak dan dipermalukan secara ekstrem. Dari sisi psikologis, trauma bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengalami dan memaknai peristiwa tersebut. Dua orang bisa mengalami kejadian yang sama, tetapi hanya satu yang mengalami trauma. Ini tergantung daya tahan emosional, dukungan sosial, dan pengalaman hidup sebelumnya.
Jika seseorang mengalami trauma di masa kecil maka ketika ia dewasa dapat menimbulkan masalah dalam caranya merasa, berpikir, berperilaku dan berhubungan dengan orang lain saat dewasa. Trauma pada anak dapat muncul karena kekerasan fisik, verbal atau seksual; penelantaran (kurangnya kasih sayang, perhatian, atau kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi); menyaksikan kekerasan di rumah; ditinggalkan atau kehilangan orang tua; hidup dalam situasi penuh konflik, ketakutan, atau rasa tidak aman; tekanan atau tuntutan yang berlebihan (misalnya: harus juara, harus mendapat nilai sempurna); dan perundungan (bullying).
Anak rentan mengalami trauma karena beberapa faktor, yang berkaitan dengan tahap perkembangan, ketergantungan emosional dan keterbatasan kemampuan anak dalam memahami serta mengelola pengalaman yang menakutkan atau menyakitkan. Pada masa kanak-kanak, bagian otak yang mengatur emosi, logika, dan regulasi diri belum berkembang sempurna. Akibatnya, anak belum mampu memahami secara rasional apa yang sedang terjadi atau bagaimana menenangkan dirinya ketika menghadapi peristiwa mengancam atau menyakitkan. Anak sangat bergantung pada orang tua atau pengasuh. Ketergantungan ini membuat anak merasa aman. Itulah sebabnya, jika orang yang seharusnya melindunginya menjadi sumber ancaman (misalnya kekerasan, penolakan, atau pengabaian), rasa aman anak runtuh total dan meninggalkan luka psikologis yang dalam.
Anak belum mampu memaknai kejadian secara abstrak. Mereka sering kali menganggap diri mereka penyebab dari hal buruk yang terjadi. Misalnya, ia berpikir: “Aku nakal, makanya Mama marah” atau “Aku salah, makanya Ayah pergi”. Pemahaman yang salah ini memperdalam dampak emosional dari pengalaman traumatis. Anak juga belum memiliki kosa kata emosional yang cukup untuk mengungkapkan ketakutan, sedih, atau bingung. Akibatnya, trauma sering muncul dalam bentuk perilaku, seperti regresi, agresi, mimpi buruk atau kesulitan belajar.
Dunia anak dibangun di atas rutinitas dan prediktabilitas. Ketika terjadi sesuatu yang tiba-tiba, misalnya kekerasan, kecelakaan, kehilangan orang yang dicintai, atau bencana, rasa stabilitas itu terguncang, dan anak merasa tidak berdaya. Kerentanan anak terhadap trauma muncul karena tubuh dan pikirannya belum siap menghadapi stres berat tanpa dukungan dan bimbingan yang aman.
Tanda atau gejala trauma pada anak dapat terlihat dari perubahan emosi, perilaku, pikiran, maupun kondisi fisik. Setiap anak menunjukkan reaksi yang berbeda tergantung usia, kepribadian, dan dukungan yang diterima. Anak yang mengalami trauma sering menunjukkan emosi yang kuat, tidak stabil, atau tidak sesuai situasi. Ia mudah takut, cemas, panik tanpa alasan jelas, sering menangis, tampak sedih atau murung, terlihat marah berlebihan, mudah tersinggung, meledak-ledak, mati rasa emosional (seolah tidak merasakan apa-apa, datar, atau cuek), dan terus-menerus merasa tidak aman atau khawatir ditinggalkan. Trauma juga sering muncul dalam bentuk perubahan perilaku sehari-hari, seperti regresi (kembali ke perilaku pada saat usianya lebih kecil, seperti mengompol, mengisap jempol, atau takut tidur sendiri), mimpi buruk, sulit tidur, menolak tidur, menarik diri, enggan bermain, tidak mau sekolah, sulit bergaul, agresif terhadap orang lain atau benda di sekitarnya, terlalu patuh, menyenangkan orang lain secara berlebihan, dan meniru perilaku traumatis yang dialami (misalnya memainkan adegan kekerasan).
Trauma juga memengaruhi fungsi berpikir anak. Anak menjadi sulit konsentrasi atau fokus belajar, penurunan prestasi akademik, mudah lupa, tampak bingung, sering membayangkan ulang peristiwa traumatis (flashback) dan berpikir negatif tentang diri sendiri. Karena tubuh dan pikiran anak saling terhubung, trauma juga bisa muncul dalam bentuk keluhan fisik. Misalnya: sakit perut atau sakit kepala tanpa sebab medis yang jelas, kelelahan atau lesu berkepanjangan, jantung berdebar, keringat dingin, napas cepat saat cemas, dan gangguan makan (tidak mau makan atau makan berlebihan). Selain itu, trauma menimbulkan masalah sosial dan relasional pada anak. Anak menjadi sulit memercayai orang lain, enggan dipeluk atau disentuh, takut terhadap orang tertentu atau situasi tertentu, serta merasa sendiri, tidak berharga, dan tidak dicintai.
Trauma masa kecil dapat dicegah, meskipun tidak semua kejadian menyakitkan bisa dihindari. Pencegahan trauma berfokus pada membangun rasa aman, dukungan emosional, dan kemampuan anak untuk menghadapi stres dengan sehat. Pertama: Anak membutuhkan rasa aman secara fisik dan emosional sebagai dasar pertumbuhannya. Oleh karena itu, orang tua dan pengasuh perlu menghindari kekerasan dalam bentuk apa pun (baik fisik, verbal maupun emosional), menunjukkan kasih sayang dan konsistensi dalam pola asuh, dan menjadi tempat yang aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi tanpa takut dimarahi. Kedua: Anak yang mampu berbicara dengan nyaman tentang perasaan dan pengalamannya lebih terlindungi dari dampak psikologis negatif. Oleh karena itu, anak perlu diajak berbicara dengan penuh empati. Misalnya: “Kamu kelihatan sedih, mau cerita kenapa?”. Anak juga perlu diajarkan untuk menyadari dan mengakui emosinya, seperti sedih, takut, marah, atau kecewa. Sekecil apa pun perasaan anak, tidak boleh diremehkan. Ketiga: Membangun daya lenting (resiliensi) anak sejak dini agar ia memiliki kemampuan bangkit dari kesulitan. Ini dapat dibangun melalui pola asuh yang mendukung dan hangat, menumbuhkan rasa percaya diri, serta mengajarkan keterampilan sederhana dalam mengatasi masalah sesuai dengan usia anak. Keempat: Anak yang memiliki relasi positif dengan lebih dari satu orang dewasa yang peduli (misalnya guru, kakek-nenek, pembina rohani) cenderung lebih terlindungi dari dampak trauma. Dukungan sosial ini memperkuat rasa aman dan kepercayaan diri anak. Itulah sebabnya, dukungan sosial untuk anak perlu dibangun. Kelima: Konflik keluarga, perceraian atau kesulitan ekonomi tidak harus berujung trauma pada anak bila ditangani dengan baik. Oleh karena itu, orang tua harus menghindari pertengkaran di depan anak, menjelaskan perubahan keluarga dengan jujur dan sesuai usia anak, dan menunjukkan bahwa masalah bisa diselesaikan dengan tenang dengan saling menghormati. Keenam: Pencegahan trauma juga berarti mendidik orang tua, guru, dan masyarakat agar memahami tanda-tanda stres atau gejala trauma pada anak, serta tahu kapan harus mencari bantuan profesional (konselor, psikolog anak, atau psikiater). (SRP)
